Renungan Hari Rabu, 14 Oktober 2026, Pekan Biasa XXVIII

weismeralda@gmail.com 14-Oct-2026 08:15:27


Bacaan 1: Galatia 5:18-25
Bacaan Injil: Lukas 11:42-46

MENGHAKIMI SESAMA VS BUAH KASIH

Pak Abdi, seorang ketua lingkungan yang sangat ketat aturan, sempat menghakimi seorang pemuda lusuh dan berbau alkohol di gereja. Namun, sepulang Misa, ia melihat pemuda itu sedang merawat dengan penuh kasih seekor kucing jalanan yang terluka. Pemuda itu menangis, menggunakan sapu tangannya sendiri membersihkan darah pada tubuh kucing tersebut, dan memberi minum hewan tersebut.

Pak Abdi pun tersadar. Meski pemuda itu tidak tampak “saleh” secara lahiriah, ia justru menunjukkan “buah Roh” yang sejati: belas kasih dan kasih yang berkorban. Pak Abdi akhirnya ikut berlutut untuk membantu, belajar bahwa Tuhan lebih menghargai hati yang penuh kasih daripada sekadar ketaatan pada aturan.

Kisah ini mengingatkan kita pada bacaan Galatia 5:18-25. Kita sering mengira agama hanya soal daftar aturan dan hukuman jika gagal. Padahal, agama sejati bukan tentang beratnya aturan, melainkan perubahan hati oleh Roh Kudus.

Dalam Galatia 5:18-25, Paulus mengingatkan kita akan pertentangan antara daging dan Roh. “Daging” (sarx) di sini bukanlah tubuh fisik, melainkan kodrat manusia yang jatuh, yaitu ego yang berpusat pada diri sendiri dan menentang Allah. Perbuatan daging yang tercantum dalam Galatia 5:19-21, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya adalah manifestasi dari ego yang tidak terkendali.

Sebaliknya, teks asli “Buah Roh” (Galatia 5:22-23) menggunakan kata tunggal “buah” (bukan “buah-buah”), yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri yang merupakan satu kesatuan karakter yang berpusat pada Kasih. Kita tidak dapat menghasilkan buah ini sekadar dengan “berusaha lebih keras” menaati hukum, melainkan hanya bisa menghasilkannya jika kita “berjalan menurut Roh” (Galatia 5:16).

Beralih ke bacaan Injil Lukas 11:42-46, Yesus mengecam orang Farisi yang sangat teliti membayar persepuluhan dari selasih, mint, dan segala jenis sayur-sayuran sebagai aturan dalam ritual. Padahal, mereka mengabaikan “keadilan dan kasih Tuhan” yang merupakan dasar moral dan hati.

Yesus juga menegur ahli Taurat yang meletakkan “beban yang tidak terpikul” di atas bahu orang lain. Agama yang seharusnya menjadi sayap yang menerbangkan manusia menuju Tuhan, justru diubah menjadi rantai yang membelenggu. Mereka menciptakan agama yang kaku, tanpa empati, dan tanpa sentuhan kasih.

Kita bisa terjebak menjadi orang yang tampak sangat religius (rajin ibadah, puasa, dan memberi persepuluhan), tetapi kehilangan hati. Contohnya: taat aturan gereja, tetapi suka bergunjing di kantor atau bersikap keras dan tidak peka terhadap kelelahan keluarga di rumah. Ini adalah "karya daging" yang berkedok kesalehan.

Sebaliknya, Buah Roh terlihat nyata ketika kita dengan sabar merawat orang tua yang sakit atau berani membela orang yang difitnah. Tindakan mulia ini lahir bukan dari paksaan aturan, melainkan dari hati yang tulus dipenuhi kasih.

Pertanyaan untuk direnungkan:
• Apakah iman kita justru menjadi beban bagi orang-orang di sekitar kita?
• Apakah kita sibuk menghakimi kesalahan kecil orang lain, tetapi buta terhadap kasih dan keadilan Allah?

Mari mohon kepada Roh Kudus agar membebaskan kita dari ketaatan yang kaku dan kering. Biarlah hidup kita tidak lagi diukur dari seberapa ketat kita menaati aturan, melainkan dari seberapa besar kasih nyata yang kita berikan kepada sesama.

Tuhan Yesus Memberkati.

Sumber: https://web.whatsapp.com/sringnawati