Renungan Hari Rabu, 3 Juni 2026, Peringatan Wajib Santo Karolus Lwanga, dan kawan-kawan, Martir

weismeralda@gmail.com 03-Jun-2026 07:56:44

Bacaan 1: 2 Timotius 1:1-3, 6-12  
Bacaan Injil: Markus 12:18-27

BERANI SETIA, KARENA ALLAH HIDUP

Hari ini, Gereja Katolik seluruh dunia memperingati Santo Karolus Lwanga dan teman-temannya yang menjadi martir muda di Uganda dengan tetap setia kepada Kristus hingga titik darah penghabisan. Sekilas kisah dari Karolus Lwanga dan teman-temannya. Ia mengambil alih posisi kepemimpinan setelah Yosef Mukasa (pendahulunya) di hukum mati karena menentang tindakan bejat raja yang mengekploitasi seksual kepada anak-anak. Karolus Lwanga membimbing dan menyembunyikan para pemuda itu agar terhindar dari kekejaman sang raja. Karolus Lwanga secara diam-diam membaptis banyak pemuda di istana tersebut.

Mereka dihukum mati antara tahun 1885-1886 karena menolak untuk meninggalkan iman Kristen dan menolak tuntutan Raja Mwanga yang tidak bermoral. Tanggal 3 Juni 1886, Karolus Lwanga dibakar hidup-hidup bersama dengan teman-teman martir lainnya termasuk Kizito yang berusia 14 tahun (martir termuda), Andreas Kaggwa, dan lainnya. Tanggal 18 Oktober 1964, Karolus Lwanga dan teman-temannya dikanonisasi (diangkat menjadi orang kudus) oleh Paus Paulus VI. Karolus Lwanga dihormati sebagai pelindung pemuda Katolik Afrika. Dari kemartiran mereka, iman Katolik mengalami pertumbuhan di Uganda.

Dari kisah Santo Karlus Lwanga dan teman-temannya yang menjadi martir karena setia pada iman kepada Kristus, kita juga diajak belajar untuk setia pada iman kita kepada Kristus melalui Paulus dalam surat keduanya kepada Timotius (2 Timotius 1:1-3, 6-12) dan Yesus dari Markus 12:18-27. Paulus menulis surat kepada Timotius dari penjara di Roma. Masa itu ada di bawah kekuasaan kekaisaran Nero yang saat itu orang-orang Kristen mengalami penganiayaan secara bengis. Sedangkan Paulus menjadi “tahanan Kristus” (ayat 8) dan mungkin Timotius takut menghadapi nasib yang sama seperti Paulus kalau ia terang-terangan memberitakan Injil.

Memang sangatlah tidak mudah bahkan terbilang sulit menjadi pengikut Kristus. Paulus mengingatkan kepada Timotius untuk tetap menyalakan karunia Allah yang ada padanya. Paulus memberikan pengertian antara kerapuhan manusia dan kekuatan Ilahi yaitu iman tidak tumbuh dalam kenyamanan, namun melalui tempaan dalam pengorbanan. Paulus mengajak Timotius melihat penderitaan bukan sebagai kutuk, melainkan partisipasi dalam salib Kristus yang membawa pada kemuliaan kekal.

Sekarang kita melihat Injil Markus 12:18-27, kaum Saduki tidak percaya akan kebangkitan, sehingga memberikan pertanyaan untuk menjebak Yesus. Yesus tahu dan dengan tegas menjawa, “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengetahui Kitab Suci maupun kuasa Allah, Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.” (ayat 24, 27). Yesus tidak menolak kehidupan duniawi, namun mengungkapkan kebangkitan adalah transformasi kualitas hidup, bukan sekadar kelanjutan fisik. Dalam kebangkitan, relasi manusia dengan Allah tidak dihapus, melainkan disempurnakan dalam Persekutuan total dengan Allah. Iman akan kebangkitan mengubah cara kita memandang penderitaan, kematian, dan makna kesetiaan.

Iman yang setia yang ditunjukkan oleh Karolus Lwanga dan teman-temannya, sebelum meninggal, Karolus Lwanga mengatakan “Katonda!” yang berarti “Ya Tuhan!”. Dengan tenang ia berkata, “Kamu membakar tubuhku, tetapi tidak dapat membakar jiwaku.” Mereka tidak mati karena kebencian, melainkan hidup sampai akhir dalam pilihan kasih dan iman yang berani. Mereka adalah wujud nyata dari roh kekuatan, kasih, dan ketertiban yang ditulis Paulus, serta kesaksian hidup bahwa Allah yang mereka Imani sungguh Allah orang hidup.

Contoh di masa sekarang ini, gadget (HP) selalu menggantikan dialog meja makan di dalam keluarga. Padahal keluarga dipanggil menjadi “sekolah iman pertama” bagi anak-anak, generasi mendatang. Orangtua perlu memiliki keberanian iman dengan langkah awal mengambil keputusan sederhana dengan mematikan HP saat berdoa, Misa, kegiatan lingkungan, bahkan mengakui kesalahan di depan anak dan memilih kejujuran meskipun merugikan. Itu adalah dorongan roh yang memberikan “karunia yang dinyalakan kembali” dalam keseharian (ayat 6-7). Marilah kita menjadi saksi-saksi Kristus yang berani setia karena Allah hidup dalam hati kita dan dalam kehidupan kita dengan senantiasa menyalakan api Roh Kudus dalam hati kita. Tuhan Yesus Memberkati.

Sumber: https://web.whatsapp.com/Sr Ingnawati